Tampilkan postingan dengan label Da Vinci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Da Vinci. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

Ono Gaff, Seniman Nyentrik Pesulap Baja

Orang menganggap aneh karena saya berbicara dengan besi, tapi menurut saya itulah seni

Nyentrik. Ketika akan diwawancarai oleh Tim Komunitas, Ono Gaff sempat ganti kostum kebesarannya, Senin 5-12-13 (Comm/hfd)
Malang - Ono gaff atau pemilik nama asli Ono Sumarsono, merupakan seniman baja asal Malang. Ia dijuluki Man of Steel oleh harian Jakarta Post. Berbeda dengan seniman lainnya, pak ono lebih memilih baja sebagai alatnya berkreatifitas.  Sewaktu kecil ia tinggal dilingkungan yang penuh dengan barang-barang logam bekas, melihat hal tersebut ono berfikir untuk memanfaatkannya menjadi barang yang berharga. Akhirnya ia membuat sebuah miniatur laba-laba abstrak dari baja-baja yang ia kumpulkan.

Ia biasanya mencari besi-besi bekas di pasar loak. Ono mencari sedikit-sedikit, tidak pernah langsung memborong banyak. karena tidak asal besi bisa di pakai. Selain itu harga besi juga cukup mahal.

Optimus Prime. Salah satu karya Ono Gaff yang dipajang di Eco Green Park, Batu berupa miniatur Optimus Prime (tokoh transformer) yang terbuat dari kumpulan besi-besi bekas. (Comm/hfd)

Saat ini karya baja dari Ono Gaff sudah diakui oleh banyak orang, tak hanya di level nasional, karya seninya sudah sampai di level internasional. Karyanya banyak di pamerkan di ICC (International Culture Center) di Pandaan. Selain itu karya Ono Gaff juga banyak mejeng di areal wisata seperti yang ada di eco green park, selecta, jatim park, dan juga di beberapa kota lain.

Ono  Gaff juga terbuka untuk mengajari setiap orang untuk belajar seni kepada beliau. Ia sering memberikan seminar di berbagai tempat. Ono Gaff tidak menjadikan seni sebagai sumber penghasilan karena menurut beliau "Seni itu Untuk Seni, seni bukan untuk komersil".

Ono juga berujar kepada tim komunitas kalau orang kaya, kaya dengan hartanya, kalau ia kaya dengan ilmu. "Saya suka mengoleksi buku-buku, karena bagi saya buku layaknya uang, dengan buku kita bisa menguasai dunia", ujar Ono. (hfd)

Klik Disini Untuk Melihat Video Liputan

Sabtu, 28 Desember 2013

Handoyo, Berjuang Mempertahankan Warisan Budaya Lokal Ditengah Derasnya Arus Modernisasi (2-Habis)

Sabar. Handoyo nampak sabar mengajarkan tarian topeng malangan kepada anak-anak, Minggu (29/12/13). (Comm/hfd)


Bekerja Demi Sebuah Amanat
Malang-Selama melatih, Handoyo tidak mematok tarif alias gratis. Ia sengaja melakukan hal ini karena ia mengaku kesulitan mendapatkan orang yang memiliki kepedulian untuk belajar tari Topeng Malangan, apalagi ditengah era globalisasi seperti sekarang ini. “Sekarang itu jamannya sudah berbeda, anak-anak lebih suka bermain playstation daripada harus capek-capek belajar tari Topeng Malangan,” kata pria berusia 34 tahun ini. Ia juga menambahkan bahwa tingkat kesulitan yang tinggi dalam mempelajari tari Topeng Malangan merupakan salah satu faktor mengapa generasi muda enggan untuk mempelajari kesenian ini. Atas dasar itulah Handoyo membebaskan biaya pelatihan agar membuka peluang bagi siapa saja yang mau belajar kesenian Topeng Malangan.

Karena digratiskan, maka Handoyo beserta keluarganya yang harus menutupi biaya operasional sanggar. Dulu, ia mengaku sempat mencari pekerjaan tambahan untuk menutupi biaya operasional sanggar karena penghasilan dari hasil penjualan topengnya masih belum cukup untuk menutupi biaya operasional sanggar. “Dulu itu masih sepi pembeli, jangankan untuk menutupi biaya sanggar untuk makan aja kadang masih tidak cukup,” ucap Handoyo dengan senyum

Namun sekarang, ia sudah bisa sedikit bernafas lega sebab tingkat permintaan kerajinan topeng malangan terus meningkat. Baik untuk aksesori hotel, perhiasan rumah hingga souvenir. Fakta ini menunjukan bahwa kerajinan topeng malangan mulai disukai banyak orang. “Alhamdulillah, sekarang mulai ramai pesanan, mulai dari keluarga sampai kalangan bisnis. Hal ini membuat kami semakin bersemangat untuk melestarikan kesenian ini,” tambah Handoyo

Dari hasil penjualan topeng malangan, Handoyo rela menyisihkan sebagian untuk biaya operasional sanggar. Disamping mengadakan pelatihan, Handoyo juga mengadakan pementasan yang bernama Gebyak Senin Legi. Sesuai dengan namanya, pementasan tersebut diselenggarakan setiap malam senin legi. Sebab senin legi dianggap sebagai hari sakral lahirnya dukuh Kedungmonggo.

Pementasan tersebut bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada para siswa Asmoro Bangun yang telah rela berlatih tari topeng malangan. Dengan adanya pementasan, diharapkan motivasi tiap siswa untuk belajar akan meningkat sebab mereka akan dilihat oleh warga sekampung dalam satu panggung besar.

Berkat konsistensinya, saat ini mulai banyak wisatawan lokal maupun asing yang datang ke sanggar Asmoro Bangun, untuk belajar atau sekedar berapresiasi. Handoyo berharap kedepannya ada kerjasama yang solid antara pemerintah, pekerja seni serta masyarakat Malang Raya untuk melestarikan kesenian Topeng Malangan. Sehingga Topeng Malangan akan terus melekat sebagai warisan budaya Malang Raya ditengah gempuran arus modernisasi.(.hfd)

Klik disini Untuk Melihat Video Liputan

Jumat, 27 Desember 2013

Handoyo, Berjuang Mempertahankan Warisan Budaya Lokal Ditengah Derasnya Arus Modernisasi (1)

Ilustrasi. Topeng Malangan merupakan salah satu warisan budaya yang dimiliki oleh Kota Malang. (AsmoroBangun/bangunasmoro.blogspot.com)

Orang asing mengakui bahwa negara kita memiliki warisan budaya yang luar biasa, maka hargailah kesenian bangsamu, baru kalian boleh mempelajari kesenian bangsa lain - Handoyo 2013 

Malang-Menyandang cucu dari seorang maestro seni topeng malangan Alm. Mbah Karimun, merupakan beban tersendiri bagi seorang Tri Handoyo. Pria kelahiran 3 Maret 1978 ini mempunyai tanggung jawab yang besar dalam menjaga dan melestarikan kesenian topeng malangan di tengah derasnya arus modernisasi.

Handoyo mengaku memiliki beban moral tersendiri ketika Almarhum Mbah Karimun memberikan kepercayaan kepadanya agar meneruskan perjuangan untuk melestarikan kesenian topeng malangan. Khususnya di daerah Kedung Monggo, Pakis Aji, Kabupaten Malang. “Saya selalu ingat pesan dari almarhum kakek saya, bukan harta ataupun benda yang beliau wariskan melainkan kesenian topeng malangan, untuk itulah saya dan keluarga selalu berusaha untuk terus melestarikan kesenian ini,” ujar Handoyo.

Handoyo sendiri merupakan satu-satunya cucu dari Alm. Mbah Karimun yang mewarisi ilmu kesenian Topeng Malangan. Ia sudah mewarisi hampir semua keahlian yang telah ditularkan oleh Alm. Mbah Karimun. Mulai dari membuat kerajinan Topeng Malangan hingga menari Topeng Malangan. Bekal itulah yang membuat Handoyo memiliki kepercayaan dalam menjaga dan melestarikan seni Topeng Malangan.
Handoyo. Handoyo ketika diwawancarai oleh komunitas, Sabtu (28/12/13). (Comm/hfd)

Sebelum meninggal dunia, Alm. Mbah Karimun sempat mati-matian membangun sanggar kesenian topeng malangan, Asmoro Bangun yang terletak di daerah Kedung Monggo, Pakis Aji, Kabupaten Malang. Handoyo menceritakan tujuan utama Alm. Mbah Karimun membangun sanggar kesenian Asmoro Bangun adalah sebagai wadah bagi anak cucunya dan warga sekitar sanggar untuk melestarikan kesenian topeng Malangan. Beliau berharap dengan adanya Sanggar Asmoro Bangun, minimal anak cucunya dan masyarakat kedungmongo masih dapat melestarikan kesenian Topeng Malangan, jika pada suatu saat nanti, sudah tidak ada lagi orang khususnya masyarakat Malang yang peduli terhadap kesenian topeng Malangan.

Kini tinggal Handoyo beserta keluarganya yang sampai sekarang masih berusaha menghidupkan sanggar Asmoro Bangun. Setiap minggu pagi, Handoyo selalu melakukan pelatihan tari Topeng Malangan di sanggar tersebut. Kebanyakan siswanya adalah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Klik disini Untuk Melihat Video Liputan

Rabu, 25 Desember 2013

CSD, Dari Kampus Menuju Superstar

Energik. Anggota CSD tampil energik ketika tampil disebuah panggung acara beberapa waktu lalu. (Comm/SRO)

Malang – Banyak sekali komunitas Dance di kota Malang. Tetapi Channel Star Dance adalah salah satu Club Dance yang penuh dengan prestasi. Sebuah Club Dance yang berasal dari kota Malang, yang beranggotakan anak-anak muda ini bernama Channel Star Dance (CSD). Awal mula nama CSD berawal dari kata Vague yang beranggotakan orang yang sudah tua. Dan kata Latar yang berangggotakan anak muda. Kemudian nama Vague berganti nama menjadi Star. Setelah berselangnya waktu, Star mendapatkan banyak Job dan Channel, akhirnya muncullah kata Channel yang kemudian digabung menjadi Channel Star Dance.

Club dance yang berdiri sejak Februari 2008 ini selalu menyempatkan waktunya untuk latihan seminggu minimal 2 hari. “Kita selalu menyempatkan waktu untuk latihan, ya 2 hari dalam seminggu,” ungkap Fajar Setiawan yang akrab dipanggil Fafa.

Dalam setiap latihan, yang selalu dilakukan CSD adalah latihan kedetailan, power, harmonisasi, gym nastic dll. Karena kerajinan dan kekompakannya, CSD mempunyai banyak prestasi dalam waktu dekat ini. Juara 3 even Honda Beat Tulungagung, juara 2 even Honda Beat Malang, juara 2 Latulip Malang, juara 1 cover Gangnam Style, dan masih banyak lagi.

Club Dance yang beranggotakan anak muda ini mempunyai prinsip “ kalau ada Dancer yang baik, kenapa CSD tidak bisa !!! dan CSD pasti bisa.” Dari prinsip itulah CSD dapat membuktikan dan mampu menjadi Dancer yang berprestasi. Terbukti para anggotanya sangatlah rajin mencari reverensi dance dari dalam maupun luar negeri. Dan dari situlah CSD mampu menjadi pemenang pada setiap pertandingan.

Untuk kedepanya CSD ingin semakin mengembangkan sayapnya, semakin maju, terkenal dan regenerasi harus terus berjalan. “ harapan kedepanya tentu saja kami ingin semakin maju, terkenal dan regenerasi tidak boleh putus,” ungkap Faris salah satu mahasiswa UB FIA Bisnis. (SRO)

Kreatip-Primitip Rosokcraf




Pose. Anggota Rosokcraft berpose memerkan hasil karyanya di sebuah stand CFD (Car Free Day) Malang. (RosokCraft/Dok. Pribadi)
Tiada yang tak berguna didunia ini, semua memiliki manfaat jika kita terus berpikir kreatif dan inovativ - M-Comm


Commers tentu sudah sangat familiar dengan korek gas,namun taukah kamu jika korek gas ditangan orang-orang ini bisa menjadi sebuah maha karya yang fantastis? Ya mereka adalah komunitas kreatip-primitip (Rosokcraft.), komunitas yang menggeluti seni instasi yang terbuat dari korek gas bekas.

Para anggota Rosokcraft sangat ahli dalam menyulap korek gas menjadi miniatur motor, replika hewan, becak, dan aneka benda unik lainnya. Nama Rosokcraft sendiri diambil dari kata Rosok (tukang rosokan bekas) karena bahan baku yang mereka pakai berasal dari korek gas bekas yang mereka dapat dari tukang Rosok. Sementara kata “Primitip” diambil dari sebagian dari anggotanya yang merupakan kaum “Primitif” atau ndeso.

Tanggal berdirinya Rosokcraft sendiri belum diketahui secara pasti, namun Okta Deddie, sang pendiri, sudah sejak 2 tahun yang lalu mencoba membuat karena melihat korek api yang sudah tidak terpakai berserakan di kamar. Ia akhirnya iseng memreteli korek tersebut dan dirakit seadanya. Dari situ mulai timbul rasa penasaran dan "kecanduan" karena semakin detil karyanya maka semakin seru. Okta akhirnya menambahkan berbagai ornamen untuk mempercantik karyanya, misalnya skotlet, cat, lampu LED, karet sil tabung elpiji, kabel, dll.

Akhirnya, tetangga kampungnya yang sering main kerumahnya tertarik ingin belajar dan menyumbang ide baru untuk membuat model lain. Mereka tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa semua bahannya adalah barang bekas.

Hasil Karya. Anggota Rosokcraft berhasil menyulap korek gas bekas menjadi sebuah mahakarya vespa mini. (RosokCraft/Dok. Pribadi)


Rosokcraft pernah memamerkan karyanya di Festival Malang Kembali 2012. Respon yang diberikan pengunjung juga cukup baik. Para pengunjung banyak bertanya apakah karya mereka dijual, berapa harganya, bagaimana membuatnya, berapa lama membuatnya, kumpulnya dimana, dan masih banyak lagi. Bahkan, banyak juga anak-anak kecil merengek ingin membeli karya mereka.

"Kami berpikiran meskipun sebagian dari kami primitif/ndeso, tapi kami bisa berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bernilai seni bahkan bernilai jual,karena latar belakang profesi dan pendidikan tidak menyurutkan teman-teman untuk berkreasi (ada sebagian dari kami berprofesi sebagai pengangguran, kuli bangunan, tukang aspal, buruh karoseri, penjaga toko). Semoga dari sampah bisa jadi rupiah. Amin.... Itulah harapan kami", Tutur Okta Deddie selaku ketua Rosokcraft.

Mereka pun membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin belajar atau sekedar main-main ke basecamp mereka. Mereka biasanya berkumpul setiap Minggu di Car Free Day. (MN)

Basecamp:
Jl. Imam Bonjol II/458 RT.04 RW.03 Karangjati, Ardimulyo-Singosari-Malang
Facebook: “ Komunitas Kreatip-Primitip Rosokcraft Malang”.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes